Sinema Indonesia

Lentera Merah (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:00 am

Pada saat ada banyak film-film blockbuster yang worth it buat dibeli tiketnya (MI:3, X-Men 3, Inside Man), kami beri satu alasan untuk nonton film rip-off, murahan, dan superdumb karya sutradara terbaik Indonesia menurut orang-orang cerdas yang tergabung dalam tim juri FFI 2005 ini:







… Oke, kami nggak nggak bisa nyari satu alasan pun. Kecuali jika anda ingin mensukseskan kampanye “Tonton Film Indonesia Seberapapun Busuknya”. Siapa tau anda bisa dapat pin ber-autograph dari sutradaranya. Mungkin beberapa ratus tahun lagi saat Indonesia sudah waras, pin itu harganya bisa jadi mahal banget sebagai memorabilia betapa sakitnya Indonesia sekarang.

Susah memang mencari sesuatu yang bisa dipuji di Lentera Merah. Membicarakan hal-hal yang jelek dari film ini, however, seperti disuruh mencari pasir di pantai.

Lentera Merah bercerita tentang proses inisiasi mirip ospek buat para mahasiswa yang ingin masuk jadi anggota sebuah majalah kampus yang bernama Lentera Merah. Ceritanya, majalah ini adalah majalah tua yang terkenal banget sejak jaman PKI karena selalu dengan berani menyuarakan kebenaran (cieee kebenaraaan…). Saat prosesi berlangsung, banyak calon anggota yang mati dibunuh hantu kreatif nggak penting yang selalu meninggalkan pesan “65: Kebenaran Mesti Ditegakkan” yang ditulis dengan darah para korbannya.

Film ini menjadi super-cupu bukan cuma karena Hanung mencuri ide dari banyak film mulai dari Stir of Echoes sampai Ju On: The Grudge dan hantunya merupakan jiplakan dari mulai Sadako sampai Suster Ngesot. Tapi karena Hanung mencoba menggabungkan film slasher dengan isu PKI yang pada akhirnya nggak begitu nyambung. Itu namanya pretensius, Baby.

Kacaunya, Hanung pasang badan dengan menyalahkan para pemainnya dengan mengatakan mereka stupid. Padahal kalau Hanung mau introspeksi, kebodohan ada di dalam dirinya sendiri.

Skrip yang ditulis Hanung bersama Ginatri S. Noer (kami tidak pernah dengar namanya, mungkin itu elter egonya Hanung juga) dipenuhi dengan dialog-dialog bodoh yang membuat dialog sinetron tidak terdengar terlalu buruk. Contoh: Lentera Merah katanya berisi orang-orang pilihan dan cerdas, tapi yang keluar dari mulut orang-orang ini semua cemen. Mungkin Hanung harus bikin film art saja. Seenggaknya kalo ada yang absurd, dia bisa ngeles “ah, itu anda saja yang tidak mengerti maksud saya.” Kalau film horror, jelas kami yang awam dan bodoh pun tau bahwa film horror tujuannya untuk menakut-nakuti penonton. Tapi, apa bisa penonton takut ngeliat ada tokoh yang matinya ditusuk-tusuk kartu remi? Atau mati karena ditusuk pensil yang di ujungnya ada mainan berbentuk sapi (mungkin) yang terus goyang-goyang?

Dengan Jomblo, Hanung masih bisa got away with the crime karena memang sense of humor orang berbeda-beda. Kami rasa sulit baginya untuk lolos kali ini. Kalau pun dia berhasil lolos, kami yakin suatu hari orang akan bisa melihat yang sebenarnya, mengingat produktifitas sutradara kita satu ini yang lumayan tinggi. Kebenaran memang mesti ditegakkan. Kebenaran yang kami tau adalah he sucks, big time.

Video transfer ke 35mm, Warna, 100 menit
Pemain: Laudya Cynthia Bella, Dimas Beck,
Firina, Teuku Wisnu, Tesadesrada Ryza,
Fikri Ramdhan.
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis: Hanung Bramantyo &
Ginatri S. Noer
Sinematografi: Robby Herbi
Art: Allan Sebastian
Editor: Andi Pulung
Musik: Wiwiex Soedarno
Produser: Soebagio S &
Gope T. Samtani
Produksi: Rapi Films

Comments (5)

Category: Review

Dunia Lain The Movie (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:00 am

Gedung Trans TV di Mampang, Jakarta Selatan, adalah gedung stasiun TV yang paling megah dan prestisius di Indonesia. Sekarang gedung Trans TV citra tambahan baru: sebagai landmark dari mungkin film terculun yang pernah dibuat oleh filmmaker Indonesia.

Dunia Lain The Movie yang tadinya sudah diiklankan untuk dirilis bulan Juli tahun lalu, ditahan selama setahun oleh Trans TV yang memproduksi film ini untuk di-shoot ulang karena dinilai sangat memalukan. Saya rasa ini adalah satu kebohongan karena sebuah film nggak mungkin lebih memalukan dari Dunia Lain The Movie yang saya tonton minggu lalu.

Kalau saja Dunia Lain The Movie dirilis tanggal 17 Agustus 2006 untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, film ini bakal dengan tepat menggambarkan keadaan negara ini sekarang: absurd, ribut, bodoh, bikin frustrasi. Dan cerita para hero di Dunia Lain The Movie yang melawan hantu dari Mesir menggambarkan negara kita yang sedang berjuang melawan hal-hal yang nggak penting: majalah Playboy, goyang ngebor Inul.

Olala… Dunia Lain The Movie dipenuhi kejutan-kejutan yang dijamin akan membuat rahang anda tetap terbuka dan sesekali membuat anda terkentut. Tuuuut… Dimulai dengan pembukaan filmnya yang terlihat seperti hybrid antara sinetron Jaka Tingkir dan acara Buser dengan gerakan kamera yang hyperaktif dan gambar yang burem yang hanya mungkin dihasilkan dengan menggunakan kamera handphone. Ditambah dialog-dialog yang hanya mungkin ditulis oleh anak SMP yang ambisi terbesar dalam hidupnya adalah buat jadi penulis infotainment SSSSSSH (Shitty Stories Seputar Stupid So-called Selebriti Hmmmmuaah…!)

Soal spesial efek, Dunia Lain The Movie menandingi SFX Rantai Bumi, bahkan dalam banyak hal bisa disamakan. Kalau Rantai Bumi menampilkan produser Ki Kusumo sebagai Keanu Reeves Indonesia, sutradara Dunia Lain The Movie, Cipto Cusworth, merasa dirinya Tom Cruise di Mission Impossible, lengkap dengan dua pistol di tangan.

Cerita berkisar tentang hantu Mesir yang menguliti korbannya lalu mengejar-ngejar kru acara Dunia Lain The Movie. Yang paling dikejar adalah kru perempuan yang sama sekali tidak simpatik, saya malah kepingin dia mati cepet-cepet. Tak berapa lama, seorang peneliti dari UCLA (Universitas Culun Lagi Absurd) yang diperankan sutradara film Dunia Lain The Movie datang ke kantor Trans TV untuk menyelidiki. Kebetulan dia udah lama keliling dunia buat mengejar makhluk ini. Terjadilah kejar-kejaran menggelikan dengan tim S.W.A.T. dan beberapa helikopter tempur yang didatangkan dari polsek Mampang. Hi hi hi…

Anda mengira Psikopat buruk? Tonton film ini.

Berwarna, Video transfer ke 35mm, 90 menit
Pemain: Harry Pantja, Ronald Surapradja, Dhini Aminarti, Ivan Jay, Cipta Croft-Cusworth.
Sutradara: Cipta Croft-Cusworth + Golden Kasmara
Penulis: Cipta Croft-Cusworth, Nurzukyansyah, D.D. Putranto, Golden Kasmara
Directors of Photography: Benda Ariswandi + R. Fauzi
Art: Donny C.S.
Editor/Special Effects: Raiyan Laksamana
Musik: Emil Bias
Sound Designer: David Poernomo
Produser: Wishnutama, Harry Pantja, Emilka
Produksi: Transinema

Leave a comment

Category: Review

Ruang (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:59 pm

WOW. Film kedua Teddy Soeriaatmadja adalah pencapaian teknis yang gemilang, terutama di departemen sinematografi. Bisa dibilang, Ruang merupakan film Indonesia dengan gambar tercantik tahun ini. Hampir setiap frame indah banget kayak lukisan, malah ada yang bilang kayak lukisan Van Gogh. Tapi kayaknya Teddy lupa:

lukisan semestinya dipertontonkan di galeri lukisan, bukan di bioskop.

Sementara para sutradara lain di Indonesia masih banyak yang mencari jati diri dan belum punya trade mark, Teddy sudah punya ciri khas di setiap filmnya yaitu menina-bobokan para penonton. Beneran. Pacing-nya jauh lebih lambat dari keong.

Waktu saya baca sinopsisnya, saya benar-benar tertarik:

Seorang diplomat tua (Slamet Rahardjo) pulang ke rumah ibunya yang baru saja meninggal dan membaca surat yang ditulis almarhumah yang membuka sebuah rahasia besar tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Lewat surat-surat itu, si Diplomat kembali ke masa lalu, mengikuti kisah cinta bapaknya yang tragis dan terlarang dan sedikit demi sedikit menemukan titik terang tentang identitasnya.

Menarik kan? Kita langsung ngebayangin cerita yang menyentuh kayak film Notebook. Atau mendengar kata “terlarang”, kita langsung ngebayangin film Brokeback Mountain. Sayang, para filmmakernya lebih menghabiskan energi di frame-frame indah ketimbang kekuatan cerita. Ternyata plotnya masih berkutat di template “disease of the week” atau “dia-sakit-bentar-lagi-meninggal-low” (warning: dalam waktu dekat akan datang film dengan tema sama dengan judul “Heart”).

Ruang nggak pernah mencapai titik dramatis. Semuanya lempeng aja. Para pemainnya nggak ada yang bermain jelek, cuman skenarionya nggak ngasih mereka kesempatan buat nunjukin kebolehan. Perhatikan reaksi Slamet Rahardjo waktu pertama kali tau tentang rahasia dirinya di awal film. Flat. Parahnya lagi karena skenario yang lemah, saya tidak percaya sama satu pun karakter di sini. Luna Maya masih Luna Maya, bukan Kinasih. Demikian juga Winky dan semua pemain.

Lewat film Ruang, sepertinya Teddy mau negasin attitude-nya sebagai film maker. Ruang (atau space), cuman ini yang dia peduliin. Dia kasih kita ruang yang dia lukis dengan indah. Dia nggak peduli sama waktu. Kalau di review Banyu Biru saya bilang nonton filmnya serasa dua hari tanpa break makan, minum, dan buang air kecil, nonton Ruang serasa mantengin screensaver di komputer saya selama dua hari. Indah-indah sih gambarnya. Tapi tetep aja screensaver. Tapi saya nggak akan ngasih kancut, karena nggak seperti film-film Indonesia lain, Ruang nggak annoying, cuman boring abis.

Sutradara: Teddy Soeriaatmadja. Penulis: Adi Nugroho & Teddy Soeriaatmadja. Pemain: Winky Wiryawan, Luna Maya, Slamet Rahardjo, Reggy Lawalata, Adinia Wirasti. Durasi: Serasa Dua Hari. Produksi: Parama Entertainment.

Comments (5)

Category: Review

Jatuh Cinta Lagi (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:56 pm

Filmmaker Indonesia punya jawaban untuk semua film di luar sana. Untuk film Sixth Sense, kita menjawabnya dengan Mirror. Untuk film Garage Days, filmmaker Indonesia menjawabnya dengan… Garasi. Untuk semua film (atau video klip) melodrama Korea, filmmaker Indonesia menjawabnya dengan Ungu Violet. Tapi, perlukah membuat tandingan film Glitter-nya Mariah Carrey? Jelas nggak perlu. Tapi suka atau nggak kita punya Jatuh Cinta Lagi, film “komedi romantis” yang “dipersembahkan” (seperti yang tertulis di filmnya) oleh non-other, King of Bad Shows Raam Punjabi dan sabun colek Bu Krim.

Oke, biarpun Glitter dan Jatuh Cinta Lagi sama-sama merupakan star vehicle (bahasa Indonesianya kendaraan bintang, kedengarannya aneh banget) buat seorang diva, kedua film punya cerita yang sama sekali beda. Glitter tentang seorang perempuan miskin yang jadi diva, Jatuh Cinta Lagi bercerita tentang pengacara. Tapi saya jadi mikir, mendingan Jatuh Cinta Lagi punya cerita sama kayak Glitter aja ketimbang tentang pengacara. Apa para filmmakernya nggak pernah liat proses pengadilan di Indonesia. Boring banget lageee…

Atau bisa jadi filmmakernya sadar tentang hal ini, sehingga mereka membuat film ini jadi komedi komikal dengan akting yang sengaja dilebih-lebihkan dan karakter yang sengaja dibuat terlihat bodoh. Tapi, perlu orang-orang cerdas untuk memparodikan kebodohan, sesuatu yang nggak kita lihat di Jatuh Cinta Lagi. Jatohnya, ketimbang tertawa bersama film ini, kita malah mentertawakan film ini.

Krisdayanti jadi pengacara yang selama ini selalu menangani kasus-kasus perempuan secara pro-bono atau nggak dibayar. Gary jadi pengacara yang selalu menangani kasus-kasus high-profile termasuk para selebriti. Keduanya ketemu waktu Krisdayanti merepresentasikan seorang pengusaha jujur dan Gary mewakili istrinya, seorang penyanyi dangdut norak abes (jadinya emang beneran norak abes) yang dimainkan oleh Cornelia Agatha untuk kasus perceraian mereka. Awalnya mereka saling benci. Plot selanjutnya bener-bener ngikutin buku “Bagaimana Membuat Skenario Yang Bisa Membuat Penonton Nguap Sampai Kehabisan Oksigen” karangan Dr. Klize Banged.

Sebenernya, plot cerita yang basi nggak apa-apa, asal di antara opening title dan closing kita disuguhi oleh hal-hal yang menghibur. Untuk ini, para filmmakernya memasukkan banyak facial comedy (mencoba jadi lucu dengan memencong-mencongkan muka) Lucu? Nggak. Nyebelin? Banget.

Yang paling menarik dari film ini adalah usahanya untuk menyindir banyak hal, tapi selalu gagal. Film ini mencoba menyindir infotainment dan kepalsuan artis-artis yang ditampilkan di acara kayak gitu. Sayangnya, film ini tidak punya kelas yang lebih tinggi dari objek sindiran mereka. Sering kali, banyak karakter yang sengaja digambarkan garing dengan mengeluarkan joke-joke basi (”tau nggak kenapa malam ini gelap? Karena bintang-bintang ngumpul di mata kamu”). Masalahnya, joke-joke yang mereka pikir bener-bener lucu juga garing (”ngapain pulang cepet? Kan nggak bawa sendok.”). Aduuuh… itu joke kan tua banget, waktu “Topi-Topi Centil” masih dianggap judul yang nangkep (maksudnya catchy).

RIzal Mantovani adalah sutradara musik video yang hebat. Biasanya kalau sutradara musik video jadi sutradara film, mereka cenderung nonjolin style ketimbang isi. Jatohnya, style-nya mungkin oke, tapi storytelling-nya lemah (contoh: Garasi, Tusuk Jelangkung). Saya menghargai usaha Rizal untuk menitikberatkan pada storytelling ketimbang style pada Jatuh Cinta Lagi. Masalahnya, dia nggak punya materi storytelling yang memadai di sini. Dan please, sedikit style nggak apa-apa kok, daripada nonton film kayak Jatuh Cinta Lagi: cobaan buat mata dan kuping.

Pemain:
KRISDAYANTI, GARY ISKAK, CORNELIA AGATHA, ALEX ABBAD
Sutradara:
RIZAL MANTOVANI
Penulis:
VE HANDOJO
Produksi:
MVP PICTURES and KD FILMS
Homepage:
http://www.jatuhcintalagi.com
Trailer:
http://www.jatuhcintalagi.com
Durasi:
101 min

Comments (2)

Category: Review

D’Girlz Begins (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:54 pm

Saya selalu berpikir bahwa laki-laki seharusnya harus lebih menghargai perempuan karena laki-laki tidak harus mengalami banyak penderitaan yang dilalui perempuan seperti menstruasi. Softex dengan bantuan Tengku Firmansyah berhasil membuat saya dapat merasakan penderitaan yang harus dijalani ibu, adik, dan teman-teman perempuan saya. Bahkan lebih buruk. Menonton film dengan poster seperti poster band night club murahan di Senen ini serasa ditampar pake pembalut, yang sudah dipakai. Jorok, dan seharusnya nggak perlu kita alami dalam hidup kita yang singkat ini.

Kami selalu bertanya-tanya, kenapa Tengku Firmansyah bisa jadi seorang bintang sinetron yang laku. Tapi kini pertanyaan kami semakin membesar, kenapa Softex sampai mau ngasih dia duit milyaran buat bikin film? Kenapa aktor-aktor terhormat seperti Didi Petet mau aja disuruh ngelus-ngelus burungnya dalam film ini sampai lidahnya melet-melet segala?

D’Girlz Begins menceritakan tentang seorang polisi detektif perempuan yang menyamar jadi mahasiswi buat mengamati anak seorang saksi kunci kasus narkoba. Para pemain utamanya adalah pemenang kontes Softex Super Deluxe Girls 2005. Detektif perempuannya yang bernama Alexa diperankan oleh salah satu pemenang yang punya daya tarik semenarik seekor cumi-cumi. Tengku Firmansyah mengkasting dirinya sendiri sebagai hitman yang selalu muncul dengan background dan angle kamera yang paling bombastis. Kami jadi bertanya-tanya lagi. Apa yang dipikirkan Tengku Firmanyah waktu men-shoot dirinya sendiri. Apakah Tengku merasa dirinya semenarik Antonio Banderas?

Selama lima menit pertama, kami masih tertawa-tawa karena kebodohan film ini. Setelah itu, kami mulai bete karena film ini mencoba dengan segala cara untuk menghina kecerdasan penontonnya. Kami jadi bertanya-tanya lagi, mungkinkah Tengku Firmansyah diutus oleh organisasi rahasia para produser sinetron untuk membuat orang trauma datang ke bioskop buat nonton film Indonesia, sehingga mereka tinggal di rumah aja buat nonton sinetron?

Seharusnya kami sudah keluar dari bioskop waktu film ini memberi peringatan, tontonan seperti apa yang akan kami lihat di dua menit pertama saat karakter-karakternya bermain-main dengan muntah. Tapi kami sadar kami punya kewajiban untuk memperingatkan anda. Mungkin jika kami harus menggambarkan film ini kami akan menjawab: seperti pembalut wanita, keberadaannya tak terelakkan tapi nggak mesti dilihat juga.

35mm, Berwarna. Pemain: Shabrina S., Disa, Dhena, Kirana Larasati, Tengku Firmansyah, Rudy Wowor. Penulis: Tidak tercantum. Camera: Tommy Jepang. Editor: Tidak Tercantum. Musik: Tidak Tercantum. Sutradara: Tengku Firmansyah. Produksi: Q Production untuk Softex

Leave a comment

Category: Review

Berbagi Suami (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:54 pm

Hat-trick Kalyana Shira Film setelah Arisan! dan Janji Joni ini bertanggung jawab membuat kalimat se-corny “berbagi suami” menjadi kalimat yang berkelas. Berbagi Suami seharusnya dijadikan benchmark buat film-film Indonesia yang bakal dirilis biar kita nggak malu dan dipermalukan lagi sama film Indonesia. Forget about Gie, saya berani bilang kalau Berbagi Suami adalah film Indonesia yang paling well-made yang pernah dibuat.

Oh my God, Berbagi Suami adalah film dengan ensemble cast yang nyaris sempurna. Nggak pernah saya nonton para aktor dan aktris berinteraksi dalam sebuah film Indonesia seseru nonton final Piala Uber waktu Susi Susanti masih cantik. Berbeda dengan film-film Indonesia lain, yang saya lihat di sini adalah karakter, bukan lagi para bintang-bintang yang berakting. Penyutradaraan Nia Dinata juga semakin mateng aja. Ini jelas film feminis. Dan kayaknya Nia berhasil membuat Wong Solo dan laki-laki gatel lain kebakaran bulu ketek. Untuk ini, Nia menjadi salah satu hero saya.

Berbagi Suami menceritakan tiga kisah yang saling berpotongan dengan rapi. Kisah pertama adalah kisah Salma, perempuan berpendidikan dari keluarga kaya yang mengalami poligami suaminya. Yang kedua adalah cerita seorang supir produksi film yang juga mengikuti sunnah rasul. Cerita ketiga adalah tentang poligami di sebuah keluarga Tionghoa.

Ketimbang serius-serius dan bikin suntuk, Nia lebih milih komedi untuk menjalankan misinya menghukum para laki-laki yang nggak bisa menyimpan burungnya tetep di dalem celana. Dan jadinya memang lucu sekali, sekaligus berkelas.

Seperti yang saya bilang tadi, ini adalah film Indonesia paling well-made. Camerawork di Berbagi Suami bisa diadu sama film-film luar. Sentuhan perusahaan film dari Perancis, Wallworks, jelas membuat film ini terlihat sebagai film yang bener-bener dibuat oleh para pro. Dan musiknya, (sekali lagi) oh my God, saya heran kenapa belum semua film Indonesia menggandeng anak-anak jenius di Aksara Records untuk mengisi soundtrack film-film mereka. Di Berbagi Suami, mereka bukan cuman mengisi musik, tapi mengisi jiwa film ini.

Kekurangan utama Berbagi Suami adalah, film ini sudah mengatakan semua yang mau ia katakan di dua pertiga film sehingga segmen ketiga terasa agak ngesot, di samping beberapa dialog yang kurang signifikan (termasuk dialog panjang soal bintang film Cina). Tapi secara keseluruhan, film ini juara. (Nanda Meilani)

Sutradara/Penulis: Nia di Nata. Pemain: Jajang C. Noer, Shanty, Dominique, Ria Irawan, Rieke Diah Pitaloka, Tio Pakusadewo, Winky Wiryawan, Ira Maya Sopha, El Manik. Durasi: 120 menit . Produksi: Kalyana Shira Film/WalWorks

Comments (10)

Category: Review

Heart (2006)

Posted by ferrysiregar on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:53 pm

“Buanglah duit sampe ke negeri Cina”. Mungkin itu yang akan disampein Ir. Drs. Chand Parwez Servia, Bsc kepada para penonton kalau dia jadi seorang filusuf modern. Film yang gosipnya menghabiskan duit sampe Rp 8 milyar dengan music score yang dikerjakan di Beijing ini digembar-gemborkan oleh produsernya sebagai salah satu film yang menembus Cannes Film Festival. Sayangnya, unfortunately, malheureusement, purtroppo, kenaifan Chand Parwez mewakili kenaifan banyak filmmaker film Indonesia yang ngoyo pengen filmnya masuk festival film yang paling prestisius di bumi itu.

Entah mungkin Chand Parwez kurang observasi, atau dia mencari info dari orang yang salah, produser film Heart ini berpikir, selama sebuah film jalannya slow (atau ngesot, menurut terjemahan rekan kami Nanda Meilani) film itu punya kesempatan besar masuk Cannes. Jadilah Heart, film ABG dengan cerita se-klise joke “ikan apa yang pinter nyanyi?” dengan durasi yang lebih panjang ketimbang pemenang Oscar tahun ini.

Seperti yang ditulis di sinopsisnya yang spoiler abis, film ini bercerita tentang dua orang sahabat, Farrel dan Rachel. Rachel tomboy. Farrel jatuh cinta sama pengarang komik bernama Luna yang feminin. Rachel cemburu, kecelakaan, dan kakinya mesti diamputasi. Sementara itu, Luna yang menderita penyakit hati, akan mati kalau tidak mendapat donor hati. Selebihnya sama persis seperti tebakan anda.

Bahkan kalau Rachel ditukar jadi Bambang dan hati diganti jadi penis, film ini cuma punya kesempatan minus 0,001% buat masuk Cannes karena masih harus berurusan dengan akting para pemainnya yang potensial membuat para penyeleksi film dari Cannes mengganti celana dalem mereka setelah terkencing-kencing karena ketawa. Pemeran Luna (Acha Septriasa), ketimbang membuat kita bersimpati sama penyakitnya, malah mengingatkan saya pada cewek-cewek werewolf di film Ginger Snaps. Sutradaranya pasti sering bilang, “elo ketawa, tapi sebenernya mau nangis”. Jatohnya malah jadi serem. Sementara itu, pemeran Farrel (Irwansyah) hanya meyakinkan waktu dia tidur. Dan penggambaran karakter Rachel (Nirina) yang tomboy hanya cukup dengan memperlihatkan dia nyuci mobil VW kodok tiap hari. Dodi Mahendra nyuci mobil tiap hari juga. Tapi tetep aja feminin.

Saya sering miris tiap kali dengar bagaimana seorang produser mengeluarkan banyak usaha untuk departemen teknis di film mereka seperti ilustrator musik dari luar negeri, soundman dari Perancis, pawang hujan dari India, tapi tidak mengeluarkan usaha yang cukup untuk mendapatkan penulis skrip yang berbobot.

Skenario Heart seperti ditemukan dari laci penulis skenario film Indonesia jaman dulu yang udah meninggal yang mestinya menulis sebuah film melodrama dengan bintang Lenny Marlina dan Robby Sugara. Seumur hidup kami sudah banyak melihat orang pacaran, tapi nggak ada tuh yang ngomong “semoga kebersamaan kedua kura-kura itu abadi, seperti kebersamaan kita”. Halah. Yang ada juga, “ngapain sih elo buka-buka sms gue? Tampang elo aja baek, kelakuan kayak kura-kura!“.

Seperti umumnya film-film Indonesia lainnya, Heart dipenuhi dengan momen-momen bodoh yang membuat kita menangis dan tertawa. Tertawa karena bodoh banget, menangis karena bodoh banget. Tunggu sampai adegan Rachel berlari naik turun bukit di kebun teh, mengikuti mobil yang membawa Farrel dan Luna. Ada lagi adegan di danau yang berkabut saking dinginnya dan perahunya bocor sehingga Farrel dan Luna tercebur ke danau. Luna yang sakit menggigil kedinginan. Farrel keliatan bingung, “Luna kamu kenapa?“. Ya kedinginan dong, aaah…

Penyakit penulis skenario Indonesia adalah ketidakmampuan mereka untuk bermain dengan nuance dan subtlety. (Bahasa susah, saya tau. Tapi tau, ah). Untuk menarik simpati penonton, mereka nyari jalan pintas. Karakternya dibikin sakit dan bentar lagi mati. Coba deh, sekali-kali tonton film kayak Closer. Karakter-karakternya nggak ada tuh yang sakit, tapi kita bisa kok bersimpati sama tokoh-tokohnya. Penonton udah pinter-pinter. Pembuat filmnya tetep aja bodoh. Indonesia banget tuh.

Akhir kata, kami cuman mau bilang, mungkin para filmmakernya sudah mengerjakan Heart dengan sepenuh hati. Tapi sayangnya, hati aja nggak cukup. Masih perlu satu elemen lagi yang dibutuhkan yaitu kecerdasan. Kami tau komponen ini susah ditemukan di negara kita yang tercinta ini. Mungkin kita perlu mengimpornya dari luar. Sambil menunggu, lebih baik jangan sombong. Jangan kayak kura-kura. Halah!
35mm, Berwarna, 125 menit
Sutradara: Hanny Saputra.
Penulis: Armantono.
Pemain: Nirina Zubir, Irwansyah,
Acha Septriasa, Ari Sihasale.
DOP: Ical Tanjung
Art: Frans XR Paat
Editor: Wawan I Wibowo
Musik: Melly Goeslow, Anto Hoed
Produser:
Ir. Chand Parwez Servia (StarVision)

Comments (2)

Category: Review

Garasi (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:53 pm

Kami tidak pernah menyangka, kalau menjalankan sinemaindonesia akan membuat kami begitu menderita. Setelah minggu lalu Ferry Siregar kelilipan korek api (dan yang tambah menyedihkan, banyak yang mengira itu hanyalah sebuah lelucon), sekarang saya menulis review ini dengan mata kiri bengkak dan berwarna biru. Sampai saat ini masih terasa nyut-nyutan. Sakitnya lagi, mata saya biru karena ditonjok oleh sahabat saya sendiri, Ferry Siregar. Begitu keluar dari bioskop setelah nonton film Garasi, saya bercanda, “Ternyata anak-anak indie itu cemen banget, ya?”. BUK! Tinju Ferry mendarat di mata saya.

Saya memaafkan Ferry karena saya paham perasaanya. Ferry selama ini bangga sebagai anak indie. Biarpun band-nya Ferry cuman sempat manggung dua kali dan cuman dapat bayaran nasi goreng dan yogurt, tapi dia merasa bahwa jadi anak indie adalah identitas yang paling dia banggakan. Sekarang identitas itu hilang karena film Garasi. Dia menolak disebut sebagai anak indie lagi. Bahkan, setiap kali dia mendengar kata “indie”, dia selalu berteriak-teriak. Ibu kos kami, yang punya anak perempuan bernama Indira, juga ditonjok oleh Ferry saat dia memanggil anaknya, “Indiiii..!”?. Bruuk! Ibu kos kami jatuh terduduk di ember. Sekarang kami harus mencari tempat kos baru. Tadi pagi saya menemukan tempat kos yang asik, tapi saya mengurungkan niat begitu mengetahui ibu kosnya punya anak bernama Indiana.

Lupakan moto immortal “sex, drugs, and rock ‘n roll”. Garasi telah menggantinya jadi “pedoman, penghayatan, dan pengamalan Pancasila.” Saya tidak tahu harus mulai dari mana karena Garasi, film yang mengklaim dirinya sebagai film tentang band indie, justru terlihat dan terdengar sebagai penghinaan terhadap segala sesuatu yang berasosiasi dengan jiwa band indie, dan rock pada umumnya.

Kesalahan utama Garasi bukan karena ide dasarnya (tentang tiga orang anak muda ngebentuk band terus berantem) sudah sering kita liat sebelumnya (That Thing You Do, Josie and the Pussycats, Unyil Bikin Band DeKil). Itu sih nggak apa-apa. Karena yang penting gimana detil dan eksplorasi karakternya. Tapi ada nggak detil tentang orang bikin band di film ini? Ada nggak gimana anggota Garasi berdebat ngomongin sound mereka mau kayak apa? Nggak ada tuh. Yang ada malah elemen cemen kayak material sinetron: vokalis band Garasi ternyata menyimpan rahasia yang sangat BESAR. Dia adalah anak haram. HA?? SO WHAT GITU LOOOW… Trus, masa cuman gara-gara dia anak haram, dia diusir dari kosnya. Ibu kosnya bilang, “Ini lingkungan orang baik-baik” Untung dia nggak bilang gitu ke Ferry. Bisa ditonjok.

****

Kata yang tepat untuk menggambarkan film Garasi adalah: artifisial. Ketimbang mengeksplorasi bagaimana jiwa band-band indie yang sebenernya, film ini berusaha keras untuk terlihat indie dengan menggunakan nama-nama yang obvious.

– Nama Band garasi: Garasi

– Nama club tempat band indie manggung: Klub Indie

– Merek celana dalem yang dipake karakternya: Kolor (nggak ding. Ini cuman bikinan saya).

Bahkan saat adegan di sebuah stasiun radio, saat band garasi diinterview kenapa mereka ngebuat band, mereka menjawab dengan tulus “Karena kami sangat mencintai musik.” Duh.

Dialog? Karakter-karakternya berbicara seperti di film Gie.

Sekarang mari ngebahas musik. Kita lupain aja musik skornya yang dipenuhi denting piano dan petikan gitar corny. Lagu-lagu yang dibikin oleh Andy Ayunir bersama ketiga aktor utama film ini memang lumayan bagus. Tapi saya nggak percaya kalau lagu-lagunya sampai bisa membuat orang-orang nge-fans sama mereka (siapa tuh yang nyanyiin lagu Garasi pas adegan di kereta atau bis sambil dengerin walkman dengan overacting? Tolong ditampar dong). Dan sampe salah satu anggota d’Lawas sampe naik meja sambil memperdengarkan Garasi main di telpon? Oh my God. Dan sampe para wartawan nungguin di depan rumah personel Garasi sampe mereka nggak bisa keluar rumah? Kayaknya cuman satu band deh yang bisa dapet perhatian kayak gitu. Dan namanya The Beatles.

Kalau anda memutuskan untuk nonton, coba hitung ada berapa adegan anggota band Garasi merenung di jembatan penyeberangan. Tapi mungkin juga ini kebiasaan anak-anak indie. Buat kontemplasi kali, ya.

Satu lagi, setelah merilis Gie, mungkin Miles Films pengen dianggap sebagai perusahaan film yang nasionalis. Tapi nggak perlu ngegabungin band indie sama gamelan dong, ah. Sudahlah.

Tanggal 19 Januari, yang ditandai oleh dirilisnya film berjudul “Garasi”, pantas ditetapkan sebagai hari berkabung buat band-band indie, dan buat siapapun yang berjiwa rock ‘n roll. Untung saya bukan anak indie. Masalah saya sekarang cuman satu, bagaimana caranya bisa masuk rumah tanpa ditonjok oleh Ferry karena saya sudah membuka sedikit identitasnya.

Sutradara: Agung Sentausa
Penulis: Prima Rusdi
Pemain: Fedi Nuril, Ayu Ratna, Aries Budiman, Ari Dagink, Desta, David Tarigan
Durasi: 113 menit
Produksi: Miles Films

Comments (1)

Category: Review

Alexandria (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:53 pm

Kalau kita mesti membayar buat nonton sebuah film, nggak salah dong kita mengharapkan bisa menyaksikan sesuatu yang lebih dari yang kita tonton di televisi secara gratis? Terlepas dari ketidaksukaan kedua rekan saya terhadap Belahan Jiwa, saya tidak menyesal telah mengeluarkan uang untuk menonton film itu. Bahkan, saya sangat menikmati aktris-aktris papan atas ber-overacting ria dalam sebuah film yang berhasil membuat saya terbahak-bahak sampai hampir pipis di celana. (Btw, saya memberi tiga bintang buat Belahan Jiwa).

Sayang sekali, Alexandria tidak memberi balasan atas uang tiket yang saya keluarkan. Cerita? Tidak istimewa. Gambar? Kayak Dealova. Pemain? Biasa aja. Efek visual? Duh, mata saya jadi berkaca-kaca. Soalnya saya jadi ingat bahwa uang yang saya belikan tiket saya dapatkan dengan cucuran keringat dan air mata.

Alexandria bercerita tentang dua orang sahabat, Bagas (Marcel Chandrawinata) dan Rafi (Fachri Akbar) yang katanya memiliki sifat yang berbeda. Bagas orang yang penyendiri sedangkan Rafi seorang playboy. Bagas naksir teman perempuan mereka, Alex (Julie Estelle), dan mereka sudah jadi sahabat sejak kecil. Tapi ketika Bagas sekolah di luar negeri, Alex malah tunangan dengan Rafi. Bagas marah sama Rafi. Berantem lah mereka. Saya memang bukan penulis cerita, tapi kalau saya jadi filmmakernya, akan saya buat ketiganya sepakat buat melakukan mA©nage A trois. Pasti lebih banyak konfliknya.

Sedihnya lagi, karakter-karakter di film ini, satupun tidak ada yang kuat. Bagas cuman kita kenal sebagai orang yang suka bikin grafiti. Alex? Entah lah dia itu karakternya bagaimana. Sedangkan Rafi adalah orang terbodoh sedunia. Bayangkan saja, dia sudah tunangan dengan Alex. Tapi ketika mantan pacarnya bilang dia pernah hamil dan sudah menggugurkan kandungannya, dia meninggalkan Alex untuk mantan pacarnya. Kata Rafi, dia jadian lagi sama mantan ceweknya karena mau bertanggung jawab. Lho, kan udah digugurkan, Raf? Raf, kamu bodoh deh.

Durasi Alexandria yang terlalu panjang tidak diisi dengan satu pun hal yang menarik untuk diikuti. Kecuali kalau anda iseng menghitung berapa kali muncul rokok A Mild Sampoerna. Saya menghitung, lho. Banyaknya 9 kali. Tapi kata teman saya cuman 7 kali, sih. Tapi waktu nonton, dia lupa bawa kacamata. Kasian dia. Kacamatanya minus tiga.

Musik yang diisi Bongky dengan akustik gitarnya juga sangat mengganggu saya. Saking terganggunya, ketika suara gitar muncul saat film mencapai dua pertiga, saya teriak, “TIDAAAAAAK….”.

Skrip Alexandria penuh dengan kata-kata indah penuh filosofi tentang kehidupan dan cinta yang membuat saya selalu bertanya, “Eh, baca di mana, Mas Penulis Cerita?”. Seakan-akan film ini dengan keras direkayasa untuk terlihat cerdas dan bersahaja.

Tapi yang paling bikin saya menganga, sejak kapan A Mild Sampoerna jadi PH? Apa bikin film cuman buat komersialisme semata? Duh, bahkan saat menulis review ini, mata saya tetap berkaca-kaca. (Kenapa akhir kalimat selalu diakhiri dengan “a”? Kan judulnya Alexandria). Dadaaaaa…. (Nanda Meilania)

Pemain: Fachri Albar, Marcel Chandrawinata, Julie Estelle, Kinaryosih. Penulis: Salman Aristo. Sutradara: Ody C. Harahap. Durasi: 110 menit.

Comments (1)

Category: Review

Ekspedisi Madewa (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:52 pm

Banyak sutradara besar memulai dari sesuatu yang kecil.

Steven Spielberg, sutradara film-film Indiana Jones, memulai debut penyutradaraannya (setelah film-film kecil lain) dengan film sederhana berjudul Duel yang nyeritain tentang seorang bapak yang lagi naik mobil mau ke kantornya tapi di tengah jalan dikejer-kejer supir truk gila.

George Lucas, eksekutif produser film-film Indiana Jones, memulai debut penyutradaraannya dengan film futuristik THX 1138 yang walaupun idenya besar tapi filmnya sederhana.

Seorang sutradara Indonesia mencoba melakukan “jump-start” dengan memulai debut penyutradaraannya dengan membuat film petualangan mirip Indiana Jones. Hasilnya adalah imitasi membosankan dari semua film B-movie Amerika.

Pada hari pertama Ekspedisi Madewa diputar, Nanda terus meng-sms saya dan Dodi setiap menit: “Nonton Ekspedisi Madewa yuuuk… trailer-nya looks gooood…”

Trailer Ekspedisi Madewa memang sangat menjanjikan, tapi kami tau keantusiasan Nanda disebabkan oleh kedekatan emosionalnya (secara imajiner) dengan Tora Sudiro. Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk nggak ngajak Nanda nonton karena setiap kali kami nonton Extravaganza, lengan kami selalu biru-biru dicubit Nanda yang gemes ngeliat Tora.

Pada waktu nonton, however, kami berharap Nanda ada di bioskop mencubiti kami karena paling nggak kami nggak harus berjuang keras melawan kebosenan. Dodi nggak peduli lagi dianggap kurang ajar sama para penonton lain (yang bisa dihitung dengan jari) dengan mengeluarkan PSP-nya dan ngelanjutin nonton bokep Barely Legal #27. Seorang penonton yang ada di belakang kami menepuk pundak Dodi. Bukan buat negur, tapi minta supaya Dodi meninggikan PSP-nya supaya dia juga bisa nonton.

Tapi ternyata bukan kami sendiri yang bosen. Para pemain Ekspedisi Madewa juga keliatan banget bosen.

Oke, kami yakin banyak di antara anda yang terkesima dengan set Ekspedisi Madewa yang sangat meyakinkan. Tapi film-film Uwe Boll juga punya set yang sangat meyakinkan. (Buat anda yang mungkin belum familiar dengan Uwe Boll, bapak ini adalah sutradara dari Jerman yang saat ini dianggap sebagai salah satu sutradara terburuk di dunia yang selalu membuat film berdasarkan video game kayak Alone in the Dark, House of the Dead, dan BloodRayne dengan bujet dan nama-nama besar). Yang kami rasakan waktu nonton Ekspedisi Madewa juga sama, kayak nonton filmnya Uwe Boll. Sayangnya, kalau di film Uwe Boll kita masih bisa ngeliat Kristanna Loken dan Michelle Rodriguez, di Ekspedisi Madewa kita cuman bisa ngeliat perempuan-perempuan annoying.

Cerita Ekspedisi Madewa pada dasarnya adalah rip-off dari Raiders of Lost Ark dengan elemen-elemen yang di-Indonesiakan. Film ini nyeritain tentang tim ekspedisi yang pergi ke hutan buat nyari sebuah keris yang entah apa keistimewaannya. Ada tim lain yang juga mengejar keris yang sama yang dilengkapi dengan senjata berat. Tim Madewa yang diketuai oleh Tora melawannya dengan ketapel. Untung aja mereka di waktu senggang nggak main petak umpet dan makan siang dengan getuk lindri.

Tora Sudiro memerankan karakter yang secara kreatif diberi nama Tiro. Seharusnya Indra Birowo memerankan tokoh dengan nama Inowo dan Ari Dagienkz memerankan tokoh bernama Aienkz.

Film ini digembar-gemborkan menyewa sound designer yang juga ngerjain Crouching Tiger, Hidden Dragon. Perbedaannya dengan sound film Indonesia lain memang jelas. Kalau film Indonesia lain membuat kita membuka kuping lebar-lebar supaya bisa dengerin dialognya, film ini membuat kita menutup kuping rapat-rapat karena ribut banget. Apalagi pas suara tembakan-tembakan.

Intinya, kami dan kayaknya penonton Indonesia lain nggak minta banyak-banyak dari para filmmaker. Kami nggak minta teknik yang bagus, set yang mewah. Yang kami minta cuman cerita dan skrip yang bener. Bisa nggak sih? Please? (Ferry Siregar)

Crappy crap. Tora… how could you? (Nanda Meilani)

Pemain: Tora Sudiro, Ari Dagienkz, Indra Birowo, Frans Tumbuan, Pierre Gruno. Sutradara: Franklin Darmadi. Produksi: Cinervo Pictures

Leave a comment

Category: Review

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com