Sinema Indonesia

Kangen (2007)

Posted by Dodi Mahendra on Monday, 17 of September , 2007 at 12:54 am

Kabarnya, Nayato Fio Nuola pernah bilang bahwa dia hanya mau menggunakan nama aslinya untuk film yang dia buat dengan serius dan bisa dia banggakan. Ada beberapa pertanyaan yang muncul karena pernyataan ini. Pertama, kok bikin film bisa nggak serius. Kedua, bikin film nggak serius kok minta orang bayar buat nontonnya. Ketiga, bikin film kayak Kangen kok ya bisa bangga. Keempat, bikin film dengan serius saja cuma menghasilkan output kayak Kangen, gimana kalau nggak serius? Kelima, namanya yang asli itu yang mana? Nayato Fio Nuola, Pinkan Utari, Koya Pagayo, atau Sisca Dopert? Keenam, ngapain lagi sih pake nama samaran kalau semua orang juga sudah tau semua itu orangnya sama?

Kangen bercerita tentang seorang mahasiswi yang diperankan Bunga Citra Lestari dimaksudkan sebagai gabungan dari beberapa template cewek-cewek pengisi romantic comedy Hollywood: Brittany Murphy + Lindsay Lohan + Hamster. Hasilnya memang not too bad, tergantung bagaimana pandangan anda terhadap hamster. Nah, si cewek ini tadinya berantem terus dengan seorang mahasiswa baru yang diperankan oleh Rueben. Akhirnya setelah melalui proses yang sudah basi banget, mereka jadi pacaran. Tapi terus ternyata mantan si cewek mengganggu hubungan mereka.

Nayato tidak menghabiskan energinya untuk membuat cerita yang basi jadi terlihat fresh. Dia malah sibuk mengambil gambar-gambar low angle (itu tuh, gambar yang menghadap ke atas), cuma karena banyak properti yang cakep di atas kepala aktor-aktornya. Ada payung, ada dinding keren, ada bintang, ada pohon.

Skenario yang ditulis oleh MVP regular Ve Handojo juga seperti sering kehabisan ide. Ceritanya sering seolah-olah sudah selesai, eh terus nyambung lagi. Begitu berulang kali. Mungkin karena ketimbang mencoba untuk mengembangkan cerita, skenarionya hanya menitikberatkan pada Cute Factor. Plis deh, kalau hanya mau menimbulkan cute factor, mendingan yang main diganti saja dengan hamster.

Musik Andi Rianto juga masih, meminjan istilah teman saya Kevin Aditya, berada pada kategori musik KBA. Kalau Berhenti Alhamdulillah. Annoying most of the time. Please stop making fake orchestra with MIDI. It’s sooo sinetron gitu loh.

By the way, ngomong-ngomong, bikin film jelek atau bikin film bagus emang beda ya bujetnya? Kalau sama, kenapa MVP tidak milih filmmaker yang bagus sih? Tuh, Selamanya bisa oke.

Sutradara: Nayato Fio Nuola. Penulis: Ve Handojo. Pemain: Bunga Citra Lestari, Rueben Elishama Hadju, Nino Fernandez. Produser: Raam Punjabi. Produksi: MVP Pictures.

Official Site

Comments (19)

Category: Review, kancut dua

Kamulah Satu-Satunya (2007)

Posted by ferrysiregar on Saturday, 21 of July , 2007 at 6:25 pm

Suatu saat dua tahun lalu, Dodi dititipin rumah tantenya yang gede dan keren dan dia bermaksud memakai rumah itu untuk merayakan ulang tahunnya dengan mengundang teman-teman kami. Saat kami akan menelpon seorang teman untuk dimintai tolong untuk jadi bartender di acara itu, tiba-tiba Bik Jesika yang menguping sambil mengepel maju gaya Oshin menawarkan diri untuk jadi bartender. Awalnya kami tidak percaya karena membuat kopi saja Bik Jesika tidak pernah bener. Tapi ternyata Bik Jesika punya skill persuasi yang cihuy dan dia juga bilang kalau dia jadi seorang pembantu karena “by choice” dan sebelumnya dia pernah punya banyak profesi termasuk jadi sekretaris dan bartender, walaupun dia menolak bilang di mana. Akhirnya kami menyetujui usulnya. Sesuatu yang segera kami sesali.

Malam itu, Bik Jesika datang ke pesta Dodi dengan berpakaian seperti gambar perempuan di Susu Cap Nona, lengkap dengan rok mengembang dan shaker yang entah dia dapat dari mana. Beberapa saat kemudian dia mulai beraksi mengocok-ngocok shaker. Dari jauh kami hanya bisa memperhatikan Bik Jesika over-acting sebagai bartender. Tak lama kemudian setelah para tamu meminum Jesika Cocktail, para tamu merasa pusing luar biasa, bahkan ada yang menangis dan ada yang nyungsep ke dalam kolam renang. Termasuk kami yang penasaran mencicipi mixing-an Bik Jesika. Malam itu dalam keadaan terintosikasi, kami mulai menulis Sinema Indonesia.

Menonton film Hanung Bramantyo yang kesekian, Kamulah Satu-Satunya, mengingatkan kami pada Bik Jesika. Hanung tidak tahu cara bercerita yang baik, sehingga dia mencoba untuk tampil canggih dan gaya untuk menutupi kelemahannya. Ada helishot (gambar yang diambil dari atas helikopter. Kalau dari atas cumi namanya cumshot), ada “konsep” gambar yang berbeda waktu adegan di desa dan di kota, dan sebagainya. Semua yang dilakukan, kalau kata Bik Jesika, “nggak ngepek.”

Nirina berperan sebagai Indah, gadis desa yang tergila-gila dengan Dewa. (Nggak apa-apa lah. Namanya juga gadis desa). Dengan setia dia mengirimkan kartu pos undian yang pemenangnya akan dapat kesempatan ikut tur antar kota band Dewa. Seolah-olah undian ini begitu pentingnya sampai diumumkan di televisi segala. Saat pada akhirnya Indah berhasil ke Jakarta untuk datang ke acara Dewa, Indah mesti berhadapan dengan kesialan-kesialan ala Janji Joni, termasuk diangkut oleh FPI karena ke-gap lagi megang majalah berjudul “Kelinci” (dan mereka berpikir mereka pintar sekali).

Para pemain sebenarnya memberikan performance yang bisa diterima (kecuali penampilan Ringgo Agus Rahman dan Dennis Adhiswara) tapi somehow karakter-karakter mereka tidak terasa believable. Film ini gagal karena Hanung membuatnya dengan cara Bik Jesika: low taste dan over gaya. Kami baru membaca dari website tetangga, kalau Hanung sekarang sedang mempersiapkan remake dari Sundel Bolong. Mudah-mudahan Sundel Bolongnya tidak digambarkan sebagai korban perkosaan PKI seperti dia pernah mencoba mencampurkan horror remaja dan sejarah di Lentera Merah. Oh my God, posers should stay away from the classics!


Sutradara: Hanung Bramantyo. Penulis: Key Mangunsong, Raditya, Hanung Bramantyo. Pemain: Nirina Zubir, Junior Liem, Didi Petet, Fani Fadilla. Produksi: Oreima Productions.

Official Site
Jadwal Tayang 21

======

Maap, seperti yang diberitakan Sabtu siang, postingan review “Kamulah Satu-Satunya” berikut semua comment-nya terhapus dengan tidak sengaja. Untung salah satu pembaca sebelumnya meng-save postingan tersebut sehingga bisa di-upload lagi, (thanks, Kevin) kecuali comment-comment-nya.

FYI, semua comment melalui proses moderasi dulu baru muncul di Sinema Indonesia dan kami tidak pernah tidak meng-approve sebuah comment hanya karena isinya tidak setuju dengan review kami (kalau kami begitu, komen-komen yang tidak setuju lain nggak bakal pernah muncul, dong).

Beberapa pembaca mengeluhkan komen mereka yang tidak muncul sekalipun isinya selembut salju. Ini mungkin disebabkan pembaca tersebut mengunakan internet yang IP addressnya sudah pernah di-ban karena pengguna sebelumnya. Mohon pakai sambungan internet lain. :)

Comments (58)

Category: Review, kancut dua

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com