Mendadak Dangdut (2006)
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:03 am
Rudy Sudjarwo mendadak buat film yang sutingnya mendadak selesai. Setelah selesai nonton, saya mendadak yakin bahwa masa depan perfilman Indonesia yang cerah masih sangat jauh. Ketika para “kritikus” mendadak memuji-muji film ini, saya mendadak yakin bahwa perfilman Indonesia yang berkualitas memang masih sangat jauuuuh…
Pertama saya harus mengacungkan jempol kepada filmmakernya yang memutuskan untuk membuat film dengan bujet serendah mungkin, karena jujur saja, film-film mahal seperti Apa Artinya Cinta? membuat pembantu saya, Bik Jesika (sumpah itu memang namanya), selalu kena serangan jantung setiap kali dia mendengar nilai bujet film itu dari saya.
“Tiga puluh milyar, Bik!”
“Oooh….!”
“Tiga puluh milyar!”
“OOOOOOOOHHHHH….!”
“Tiga puluh mi…”
BRUK!!! Bik Jesika pun terjatuh.
Ok. Kembali ke Mendadak Dangdut. Filmmakernya punya niat dan usaha yang terhormat. Tapi masalahnya (berbeda dengan life in general di mana yang paling penting adalah proses), dalam bidang seni yang paling penting adalah RESULT. Siapa peduli Marquis de Sade nulis novel dengan menggunakan tokainya sendiri. Hasilnya toh luar biasa sinting dan jenius. Siapa peduli Bik Jesika ngerajut sweater (switer, kalo katanya) dengan menggunakan benang bekas. Hasilnya cantik bener. Siapa peduli Rudy Sudjarwo men-shoot film ini hanya seminggu atau sewindu. Yang penting hasilnya. Tapi, apakah Mendadak Dangdut hasilnya bagus?
Mari kita kesampingan kenyataan bahwa camerawork Mendadak Dangdut (yang dikerjakan oleh Rudy sendiri) terlihat mirip besutan adik saya Viktor yang baru aja masuk SMA di Jalan Brawijaya. Kalo pas nonton film dia, saya secara nggak sengaja selalu berkomentar, “Ke kiri dikit, Vik. Yak! Ke kanan dikit. Nah!” Dan ketika melihat adegan di salah satu filmnya yang berjudul “Mengejar Maling Sendal” saat bintang utamanya, Bik Jesika (bless her), berlari mengejar-ngejar penjahat, tiba-tiba saya merasa sedang naik perahu yang lagi disundul-sundul ikan hiu dari bawah. Bikin mual. Adegan Petris dan kakaknya berlari dari kejaran polisi di Mendadak Dangdut juga terasa begitu.
Tapi camerawork adalah masalah Mendadak Dangdut yang terkecil. Titi Kamal sebagai Petris di gelandang kanan, ketimbang membuat penonton berempati padanya, kita malah pengen nampar. Dalam tiap adegan, kalau dia tidak marah-marah, ya dia nangis. Nggak ada subtlety. Tapi mungkin ini bukan kesalahan Titi doang. Skrip Mendadak Dangdut memang secara emosi terasa selalu mendadak . Tidak ada journey (kami tidak pernah se-setuju ini dengan TEMPO). Skripnya juga yang membuat aktor cilik Sakurta Ginting, yang mempesona di Rindu Kami PadaMu-nya Garin Nugroho, di sini jadi sangat annoying. Pertama kali dia mengomentari susu Petris, masih agak lucu. Kedua kali udah annoying. Setelah berulang kali, filmnya jadi terasa tasteless dan sangat mengganggu.
Mendadak Dangdut bukannya tidak memilki momen-momen di mana joke-nya kena. Dan lagu Jablai memang sangat catchy (kudos to Andy Rianto). Tapi ternyata Mendadak Dangdut hanya mengandalkan Jablai untuk jalan. One-joke movie nggak pernah berhasil. Apalagi one-song movie. Dan hanya karena seorang filmmaker mau membuat film dengan subject matter yang corny, bukan berarti filmnya bisa digarap dengan corny pula. Siapa bilang West Side Story atau Saturday Night Fever nggak corny? Tapi keduanya well-made dan berhasil jadi tontonan yang asik dan berkelas. Satu hal yang paling berhasil dari Mendadak Dangdut: membuktikan bahwa dibutuhkan good taste untuk membuat film tentang bad taste.

Pemain: Titi Kamal, Kinaryosih, Dwi Sasono, Sakurta Ginting.
Sutradara: Rudy Sudjarwo
Penulis: Monty Tiwa
Kameraman Rudy Sudjarwo
Art: Wiendy Widasari, Jacqueline T. Slamet, Gita Nasution
Editor: Rudy Sudjarwo, Adjeng MJ, Khristo Damar Alam
Musik: Andy Rianto
Sound Designer: Adityawan Susanto, Trisno
Produser: Novi Christina, Mitzy Christina
Produksi: Sinemart Pictures
Category: Review
- Add this post to
- Del.icio.us -
- Meneame -
- Digg
Comment by Ben
Made Friday, 13 of April , 2007 at 5:48 pm
akhirnyaaaa sinema indonesia kembali lagi!!
entah kenapa selera gw sama persis ama ni web, terutama mendadak dangdut yang cuman dikasi satu bintang, kasi kancut juga sebenerny boleh. Yang perlu diacungin jempol ya.. karena ni film berani ngangkat tema yang ga biasa (horor n teenage movie kancut), ngambil tempat yg bener2 indo bgt, cew2nya pake baju daster n make upnya ga berlebihan, jadinya natural bgt.. Tapi, plis, camera nya pliss… bikin gw pusing beneran. scriptnya juga kancut abis. itu yg bikin ni film jadi amatiran n ga layak tonton.
Comment by Potato_King
Made Sunday, 15 of April , 2007 at 5:19 pm
ne pilem ANCUR.
the petarangan says:
Mendadak Bubrah!
First of all, I would like to ask Ninit Yunita, what the hell is going on with you? What is wrong with you to accept such a deal in adapting a movie screenplay into a novel!?
Dikemas dengan kover gaya norak yang amat sangat dangdut banget, Mendadak Dangdut karya Ninit Yunita memang merupakan buah adaptasi dari skrip tulisan Monty Tiwa. Skrip yang sama dibesut oleh Rudi Soedjarwo menjadi sebuah film layar lebar berjudul sama yang dirilis secara nasional mulai 10 Agustus 2006 lalu.
Alur cerita di buku sama persis dengan alur cerita di film, yaitu berkisah tentang misadventure yang dialami kakak beradik Yulia dan Petris Pontoh. Mereka ditangkap polisi gara-gara kasus kepemilikan heroin seberat 5 kg dan lantas kabur dan bersembunyi. Petris yang aslinya adalah penyanyi pop tenar generasi MTV menyamar menjadi penyanyi dangdut di orkes organ tunggal Senandung Citayam pimpinan Rizal Saleh Alkatiri.
Kegagaltotalan novel ini sudah terjadi sejak dari ide cerita yang ditelurkan dengan sangat “cemerlang” oleh Monty Tiwa. Penulis skenario kita yang satu ini mungkin nggak memahami bahwa keberanian untuk melarikan diri dari tahanan aparat berwenang hanya dimiliki oleh tiga jenis manusia: tawanan perang, tahanan politik, atau penjahat profesional.
Masyarakat biasa, terlebih yang berjenis kelamin cewek dan kinyis-kinyis seperti Yulia dan Petris, tak akan pernah berani kabur kecuali mereka betul-betul punya alasan yang mendesak dan memaksa mereka untuk melakukannya. Monty sama sekali nggak ngasih alasan kuat itu. Yulia dan Petris kabur hanya karena, well, hanya karena nggak mau ditangkap polisi, which is bener-bener ridiculous kecuali Polri belum menemukan teknologi DPO dan belum belajar teknik mengejar buronan!
Poin kedua yang membuat ide cerita Monty luar biasa kancut (pinjem istilahnya Sinema Indonesia!) adalah alasan yang mendasari keputusan Yulia untuk menyuruh Petris menjadi penyanyi di orkes Senandung Citayam. Menyelamatkan diri dari kejaran polisi dengan menyamar menjadi penyanyi dangdut yang kerap tampil di depan puluhan penonton? Kalau begitu, misal suatu saat Monty juga jadi buronan aparat, mungkin dia akan bersembunyi dengan cara menjadi presenter acara Superdeal 2 Milyar menggantikan Nico Siahaan!
Dan poin acakadut terakhir yang dicetuskan Monty adalah, segoblok-gobloknya para fans dangdut, takkanlah mereka sama sekali nggak mengenali wajah cantik Imel “ten2five” yang bersembunyi dari kejaran polisi dengan menyaru menjadi penyanyi dangdut. Boleh saja Monty memperkuat argumennya melalui kalimat Yulia “Nggak semua orang di Indonesia nonton MTV” (hal 44), tapi semua orang di Indonesia jelas nonton KiSS, menyimak Liputan 6, dan baca Nova!
Gagasan tentang seorang seleb angkuh yang menemukan kedewasaan gara-gara terpaksa terperosok ke dunia kaum papa dan menyelami musik dangdut sebenarnya merupakan sebuah ide yang cemerlang. Sayang set up cerita yang dibangun Monty untuk membentuk situasi itu teramat sangat konyol dan mengundang pertanyaan.
Kabur dan terpaksa bersembunyi dari buruan aparat? Any normal human being yang berada dalam kondisi demikian akan lebih memilih untuk mengontak pengacara dan mencoba membuktikan bahwa heroin seberat 5 kilo itu memang benar-benar milik orang lain daripada lari-lari tanpa tujuan jelas karena cepat atau lambat mereka pasti akan tetap tertangkap juga.
Kenapa nggak menggunakan elemen pertaruhan ego? Yulia yakin Petris nggak akan bisa bertahan hidup lebih dari sehari di tengah kalangan masyarakat bawah pencinta dangdut, dan Petris nekat memasuki “alam” dangdut untuk membuktikan bahwa anggapan Yulia salah.
Atau kenapa pula nggak memakai plot “witness protection program”? Petris menjadi saksi mata sebuah peristiwa kejahatan. Dan hingga polisi bisa menangkap si bandit, ia masuk dalam program perlindungan saksi dan disamarkan dengan identitas baru sebagai penyanyi dangdut di pedukuhan terpencil di pedalaman Banyuwangi atau Cepu tempat ia tak dikenali karena siaran MTV tak tertangkap di sana.
Segala kegatotan novel Mendadak Dangdut pun sama sekali bukan kesalahan Ninit. Manajer sehebat Fabio Capello atau Sir Alex Ferguson pun pasti juga nggak berdaya kalau harus memimpin sebuah tim sepakbola yang tidak beranggotakan para pemain sepakbola, melainkan tukang cukur! Sehandal apapun Ninit dalam menyusun novel, pekerjaannya akan tetap kacau jika materi dasar yang diolahnya sudah kacau duluan.
Satu-satunya kesalahan Ninit hanyalah menerima orderan dari SinemArt untuk mengadaptasi skrip Monty menjadi novel. Adaptasi skrip ke novel nggak pernah dan nggak akan pernah menjadi suatu gagasan yang cemerlang karena satu masalah mendasar, yaitu waktu.
Masa yang tersedia antara final draft sebuah skenario sampai tanggal rilis film sama sekali tak lama. Dan kepenulisan novel bukan jenis pekerjaan yang bisa di-deadline dengan batasan waktu yang amat cekak. Wartawan mungkin bisa dipaksa membikin satu materi tulisan hanya dalam hitungan menit karena dikejar deadline, tapi novelis jelas tidak memiliki kemampuan itu dan tidak seharusnya pula diletakkan dalam situasi demikian.
Novel Mendadak Dangdut pun pasti sudah harus selesai jauh-jauh hari sebelum tanggal rilis filmnya. Ditambah periode sekian waktu untuk editing, desain kover, pencetakan, dan akhirnya proses distribusi sehingga bukunya sudah terpajang rapi di toko-toko buku dan Indomaret seluruh Indonesia sebelum 10 Agustus, kita bisa memahami betapa sempitnya waktu yang tersedia bagi Ninit untuk mengadaptasi skrip Monty.
Maka hasilnya adalah sebuah novel yang tampak jelas digarap secara terburu-buru. Tak ada ruh, tak ada dialog maupun narasi yang bernas, tak ada kejahilan sebagaimana dalam Test Pack, dan Ninit harus puluhan kali memakai elemen “…” untuk menjembatani kesenjangan-kesenjangan yang muncul dalam pembentukan suasana.
Jadi jangan heran jika Ninit seperti bukan Ninit Yunita yang asli dalam Mendadak Dangdut (dan mungkin juga dalam Heart; saya belum baca). Time is her biggest enemy. Kasus Ninit mirip dengan Moammar Emka yang tahu-tahu jadi cemen saat mengadaptasi skenario Tentang Dia.
Tadinya saya heran karena gaya menulis Emka mirip skill menulis anak SD dalam novel itu. Belakangan saya dikasih tahu adik saya yang jadi wartawan entertainment di Kompas, Dahono Fitrianto, bahwa Emka hanya punya waktu empat hari untuk menyelesaikan novel itu. Bayangin, empat hari untuk sebuah novel! Empat hari!!
So, sebagai online buddy, saya berdoa semoga ini menjadi novel adaptasi terakhir dari Ninit. Talentanya yang gede tersia-siakan dengan order bisnis berjangka amat sangat pendek seperti ini. Dan kalau seorang Fira Basuki memberi novel ini rating empat bintang, kita semua harus memahami bahwa Fira memang bukan book reviewer, melainkan seorang testimonializer, alias tukang ngasih testimonial untuk (dan di) buku teman-temannya!
Masih untung Mendadak Dangdut nggak menjadi fully-testimonialized book kayak Test Pack. GagasMedia mungkin nggak keburu mengkoordinir barisan testimonializer-nya karena mereka juga dikejar-kejar deadline terbit oleh Leo Sutanto…
HERANNYA lagi ne pilem masuk best picture FFI(?????)
Comment by pencinta film indonesia
Made Friday, 18 of May , 2007 at 4:36 pm
film ni dibilang bagus ya…gak, dibilang jelek juga ga ahh…ada pesennya jg ko’ di dalam film ini. tapi kameranya bener bikin kepala gue puyeng ampe gue berkali2 minum bodr….eh jangan sebyut merek y?ya dah segitu ja. DuKUNG TERUS INDONESIAN MOVIE
Comment by raVeNsKa
Made Tuesday, 29 of May , 2007 at 11:20 pm
lucu seeh..tp titi kamalnya ko….cocok lah jd petris,,kliatane emang orgnya ky gt ya..sok diva,,tp aneh aja tiba² tuz jd nangis² gara² lyat tkw dipukulin tuz lgsg ingsap….proses dunk proses addohhh
Comment by pi
Made Friday, 27 of July , 2007 at 2:41 pm
jelek..ko bisa dapet bintang sih? gak masuk akal dari segi cerita..masa iya gak ada yg ngenalin si petris itu di kampung itu??? trus titi kamal juga gak bagus ah maennya.. kurang dangdut…masih ga totil…masih jaim…ga penting…
Comment by pi
Made Friday, 27 of July , 2007 at 2:43 pm
oia, klupaan..ninit yunita is a good writer ya, testpack dan kok putusin gw lumayan asik buat bacaan ringan…tapi film ini…gak banget deh…stick to writing novels please..
Comment by hege
Made Wednesday, 15 of August , 2007 at 5:46 pm
Yeah, belum pernah hege nonton film yg bikin mual-mual selain yang satu ini. Can’t believe I watched it, dua kancut cukup lah.
You must be logged in to post a comment.