Maskot (2006)
Posted by ferrysiregar on Monday, 2 of April , 2007 at 12:03 am
Sejak membaca sinopsisnya, kami tahu kami akan menyukai film ini: simpel, jelas, menarik, yang mengingatkan kami pada film Janji Joni. Setelah menontonnya, saya dan Dodi keluar dari bioskop dan diam untuk beberapa saat. Tanpa komunikasi, kami tahu apa yang ada di kepala satu sama lain: ada beberapa hal yang ngeganjel, tapi kami tetap ingin menyukai film ini.
Untuk memulainya, cerita tentang seorang screw-up yang diberi tugas mencari seekor ayam sebagai maskot perusahaan kecap milik bapaknya yang sekarat adalah formula klasik yang dijamin bisa membuat penonton tekun untuk mengikuti ceritanya, kalau saja filmmakernya bisa membuat kita tertarik pada perjuangan karakter utamanya. Tapi di sini letak kelemahan terbesar Maskot. Momen-momen yang seharusnya milik karakter utama terlalu sering disabotase karakter-karakter pembantu. Dan saat karakter-karakter pendukung lebih menarik ketimbang karakter utama, sebuah film jatuh dalam suatu kondisi yang disebut deep shit.
Yang mestinya disalahkan adalah casting director yang memilih aktor seperti Ariyo Wahab yang kharismanya nggak cukup ngejeger buat membawa cerita seperti ini. Bahkan kalaupun misalnya tokoh utama dimainkan oleh aktor yang punya star power lebih kuat, dia masih harus berjuang dengan skrip yang memberikan semua poin-poin juicy ke karakter-karakter pembantu. Sementara itu, karakter utama hanya terbawa arus. Dia nggak pernah mengambil keputusan yang membuat plot terus berjalan. (Saya nggak percaya saya bisa secerdas ini).
Untungnya sebagai film yang didesain sebagai komedi, ada banyak sekali saat-saat yang bisa membuat kami berdua tertawa terbahak-bahak. Bahkan kalau kelucuan bisa lebih konsisten sepanjang film, Maskot bisa jadi lebih berhasil ketimbang film komedi yang satunya lagi: Berbagi Suami. Kekuatan Maskot terletak di comedic timing yang umumnya pas banget.
Kami juga menyukai dan mendukung film ini karena tidak mencoba untuk berpura-pura menjadi lebih berat dari yang sebenarnya. Tidak ada nilai pretensius dalam film ini. Saat film-film lain terjebak dengan tema-tema besar tapi jatohnya ringan kayak bulu ayam, film ini hanya mencoba untuk bercerita.
Dari segi teknis, film ini adalah gabungan dari hasil kerja yang serius dan yang setengah-setengah. Jatohnya mungkin sepertiga serius. Computer-generated Images (CGI) dalam film ini bisa dicatat sebagai CGI yang paling bagus dari semua yang pernah dibikin di film Indonesia. Sayangnya, ini nggak didukung dengan sinematografi yang bisa dibanggakan. (Ya, kami memperhatikan aspek rasio layar lebar film ini yang sudah seperti film-film Hollywood). Apalagi dengan editing yang nggak cukup mulus dan seharusnya bisa memotong banyak bagian-bagian yang berpotensi untuk membuat pikiran penonton melayang ke lain tempat.
Akting para pemain juga sangat jomplang antara yang bagus banget (Butet Kartaradjasa, Epy Kusnandar) dan yang jelek banget (aktor-aktor yang jadi direksi, plis deh). Sementara itu, Ariyo Wahab dan Uli Auliani di peran utama cuma sebatas biasa-biasa saja.
Tapi, film ini adalah film yang sangat layak untuk ditonton ketimbang kebanyakan film-film Indonesia belakangan ini. Dan adalah hasil kerja yang terhormat dari para filmmaker dengan perusahaan barunya.
35mm/Berwarna/118 menit
Sutradara: Robin Moran
Produser:
Ari M. Syarif & Robin Moran
Penulis: Joko Nugroho & Ari M. Syarif Director of Photography: Faozan Rizal Editor: Wahyu Ichwan Diardono & Robin Moran
Art: Kekev Marlov
Music: Bobby Suriadi
Produksi: Random Pictures
Sejak membaca sinopsisnya, kami tahu kami akan menyukai film ini: simpel, jelas, menarik, yang mengingatkan kami pada film Janji Joni. Setelah menontonnya, saya dan Dodi keluar dari bioskop dan diam untuk beberapa saat. Tanpa komunikasi, kami tahu apa yang ada di kepala satu sama lain: ada beberapa hal yang ngeganjel, tapi kami tetap ingin menyukai film ini. 
Sutradara: Robin Moran
Produser:
Ari M. Syarif & Robin Moran
Penulis: Joko Nugroho & Ari M. Syarif Director of Photography: Faozan Rizal Editor: Wahyu Ichwan Diardono & Robin Moran
Art: Kekev Marlov
Music: Bobby Suriadi
Produksi: Random Pictures
Category: Review
- Add this post to
- Del.icio.us -
- Meneame -
- Digg
Comment by Ed Wood
Made Tuesday, 5 of June , 2007 at 8:16 pm
semalem itu baru nonton film ini setengah, 30 menit pertama sumpah boring abis…
nggak tau deh gimana nanti setelah selesai nonton film ini…
Comment by day
Made Monday, 11 of June , 2007 at 1:54 pm
gw pernah nonton n mnrt gw lucu filmnya. gw nonton pas yg diputer di rcti bareng teman2. cmn krn ada iklan n terlalu mlm, jdi kelamaan rasanya. dbndingkan film2 indo lainnya, tema yg diangkat maskot emang beda. n gw g bosen ngikutin alur ceritanya…
Comment by sheila
Made Saturday, 4 of August , 2007 at 11:29 am
Menurutku filemnya asik kok. Robin Moran itu jenius. Dia pernah bikin filem judulnya Romantic, kaynya sih lucu, tapi ga dirilis dalam btk dvd deh kayanya. Ga sabar pengen liat filem2 Mr. Moran yang berikutnya:-).
You must be logged in to post a comment.