Sinema Indonesia

Koper (2006)

Posted by Dodi Mahendra on Monday, 2 of April , 2007 at 12:05 am

Seorang teman bilang, Koper adalah film yang bisa membawa ingatan kita terbang ke masa lalu. Saya tidak bisa protes, karena selama nonton film ini, saya serasa kembali merasakan pengalaman yang setiap hari saya alami waktu masih sekolah di SMP: disetrap. Ya, nonton Koper memang terasa sebagai sebuah hukuman. Dan penderitaan kami serasa never-ending karena kami harus menonton Koper selama empat kali. Yang pertama, saya dan Ferry sudah ngorok bahkan sebelum Anjasmara menemukan koper itu. Yang kedua, kami sudah ngorok saat Anjasmara duduk sama Jenar Maesa Ayu nggak pakai baju. Yang ketiga, Ferry nonton sendiri. Saya curiga karena dia dengan serius bilang kalau di Koper ada Michele Rodriguez sebagai bintang tamu. Saya yakin dia lagi nggak waras. Akhirnya saya terpaksa nonton lagi sendirian. Dan dengan bantuan supply nachos dan popcorn yang tak terbatas, akhirnya saya berhasil nonton sampai selesai. (Sekarang ngerti kan, kenapa baru sekarang review ini turun?)

Koper seharusnya diberi judul: Banyu Biru Part Deux: Bigger, Longer, and Uncut. Paling nggak penonton yang mau nonton sudah tersaring dulu sebelum masuk bioskop, yaitu pseudo intelektual dan orang-orang yang masih mau menggunakan internet dengan kecepatan 28 kbps. Masalah terbesar Koper adalah masalah kronis yang menjangkiti filmmaker Indonesia: tidak mengenal target audience-nya. Cewe Metropli$ membidik ABG-ABG kota. Seharusnya filmmakernya tau taste ABG-ABG kota jauh lebih tinggi ketimbang film busuk mereka. Garasi pengen menarik audience dari fan base indie band. Tapi seharusnya mereka bisa menawarkan musikalitas dan attitude yang membuat band indie dicintai fans-nya in the first place. Richard Oh jelas membuat Koper untuk kalangan intelektual. Seharusnya dia tau kalau target audience-nya nggak suka diceramahi. Pesan-pesan yang ingin dia sampaikan seharusnya bisa masuk ke kepala audience tanpa mereka sadari. Berikan audience cerita yang menarik untuk terus diikuti lalu fuck them in the ass with whatever messages he wants to say when they’re off guard. Hidup bahasa Inggris.

Anjasmara berperan sebagai seorang pegawai kantor pemerintahan. Dia pecundang. Tapi untuk memberi tahu penonton bahwa dia pecundang tidak perlu sampai penonton bilang, “Yes Richard, we got it. Move on.” Suatu hari dia menemukan sebuah koper yang tidak tau isinya apa, dan orang-orang mulai memperhatikan dan menghormatinya. Saya tidak mempersoalkan keputusan filmmakernya untuk menyajikan cerita dengan bungkusan surealisme. Bahkan saya akui, beberapa gimmick seperti tulisan di billboard cukup berhasil. Yang saya sesalkan adalah ketidakmampuan filmmakernya untuk membuat penonton rela masuk ke dalam dunia yang diciptakan Richard. Ini sebagian disebabkan oleh akting para pemainnya yang tidak meyakinkan. Anjasmara tetap Anjasmara di manapun. Dan saya selalu meringis melihat akting Jenar Maesa Ayu. Ketidakpercayaan penonton pada dunia Koper membuat film ini kehilangan keberpihakan penonton. Akhirnya, waktu penutupan film yang sebenarnya bagus, penonton cuma bilang, “Yeah, Man. Whatever.”

Film seharusnya bukan bombardir gimmick. Tapi storytelling. Richard Oh pembuat gimmick yang baik. Tapi sebagai storyteller film, dia masih harus belajar banyak. Anggap ini sebagai tamparan sayang, karena saya rasa Richard punya potensi untuk jadi filmmaker yang bagus ke depan.
Pemain: Anjasmara, Maya Hasan, Jenar Maesa Ayu
Sutradara: Richard Oh
Penulis: Richard Oh
Pengarah Sinematografi: Yadi Sugandhi
Art Director: Teguh Ostenrik
Costume: Dimas
Musik: Andi Rianto
Editor: Wawan I. Wibowo
Produser: Tati Gobel, Richard Oh
Produksi: Metafor Pictures

Category: Review

2 Comments

Comment by Potato_King

Made Wednesday, 11 of April , 2007 at 6:24 pm

memang panjang,tapi keren juga
Banyak adegan-adegan yang bikin gw pengen ni film jalan terusss..
Alias alur ceritanya makin lama makin bikin penasaran
Lumayanlah.

Comment by potato-King

Made Monday, 6 of August , 2007 at 8:39 pm

tambahan…

KOPER masuk dalam:
-NetPac film festival 2007 yogyakarta
-Official Selection Singapore Film Festival 2007
-Official Selection Bangkok Film Festival 2007
-Hong kong(Asian) International Film Festival 2007

kayaknya terlalu bagus deh untuk ukuran film kancut…
Cuma KOPER dan KALA yang dapet penghargaan sebanyak itu

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.

We are back!

Sinema Indonesia adalah blog pribadi yang secara tidak disengaja jadi public domain. Sinema Indonesia tidak berafiliasi dengan grup, filmmaker, pejabat, atau tuan tanah mana pun. Sinema Indonesia adalah domain nirlaba (untuk sementara ini). Kesempatan untuk bergabung menjadi reviewer di Sinema Indonesia tetap terbuka bagi siapa saja. Silahkan e-mail contoh tulisan anda ke sinemaindonesia@gmail.com