Alexandria (2006)
Posted by Dodi Mahendra on Sunday, 1 of April , 2007 at 11:53 pm

Kalau kita mesti membayar buat nonton sebuah film, nggak salah dong kita mengharapkan bisa menyaksikan sesuatu yang lebih dari yang kita tonton di televisi secara gratis? Terlepas dari ketidaksukaan kedua rekan saya terhadap Belahan Jiwa, saya tidak menyesal telah mengeluarkan uang untuk menonton film itu. Bahkan, saya sangat menikmati aktris-aktris papan atas ber-overacting ria dalam sebuah film yang berhasil membuat saya terbahak-bahak sampai hampir pipis di celana. (Btw, saya memberi tiga bintang buat Belahan Jiwa).
Sayang sekali, Alexandria tidak memberi balasan atas uang tiket yang saya keluarkan. Cerita? Tidak istimewa. Gambar? Kayak Dealova. Pemain? Biasa aja. Efek visual? Duh, mata saya jadi berkaca-kaca. Soalnya saya jadi ingat bahwa uang yang saya belikan tiket saya dapatkan dengan cucuran keringat dan air mata.
Alexandria bercerita tentang dua orang sahabat, Bagas (Marcel Chandrawinata) dan Rafi (Fachri Akbar) yang katanya memiliki sifat yang berbeda. Bagas orang yang penyendiri sedangkan Rafi seorang playboy. Bagas naksir teman perempuan mereka, Alex (Julie Estelle), dan mereka sudah jadi sahabat sejak kecil. Tapi ketika Bagas sekolah di luar negeri, Alex malah tunangan dengan Rafi. Bagas marah sama Rafi. Berantem lah mereka. Saya memang bukan penulis cerita, tapi kalau saya jadi filmmakernya, akan saya buat ketiganya sepakat buat melakukan mA©nage A trois. Pasti lebih banyak konfliknya.
Sedihnya lagi, karakter-karakter di film ini, satupun tidak ada yang kuat. Bagas cuman kita kenal sebagai orang yang suka bikin grafiti. Alex? Entah lah dia itu karakternya bagaimana. Sedangkan Rafi adalah orang terbodoh sedunia. Bayangkan saja, dia sudah tunangan dengan Alex. Tapi ketika mantan pacarnya bilang dia pernah hamil dan sudah menggugurkan kandungannya, dia meninggalkan Alex untuk mantan pacarnya. Kata Rafi, dia jadian lagi sama mantan ceweknya karena mau bertanggung jawab. Lho, kan udah digugurkan, Raf? Raf, kamu bodoh deh.
Durasi Alexandria yang terlalu panjang tidak diisi dengan satu pun hal yang menarik untuk diikuti. Kecuali kalau anda iseng menghitung berapa kali muncul rokok A Mild Sampoerna. Saya menghitung, lho. Banyaknya 9 kali. Tapi kata teman saya cuman 7 kali, sih. Tapi waktu nonton, dia lupa bawa kacamata. Kasian dia. Kacamatanya minus tiga.
Musik yang diisi Bongky dengan akustik gitarnya juga sangat mengganggu saya. Saking terganggunya, ketika suara gitar muncul saat film mencapai dua pertiga, saya teriak, “TIDAAAAAAK….”.
Skrip Alexandria penuh dengan kata-kata indah penuh filosofi tentang kehidupan dan cinta yang membuat saya selalu bertanya, “Eh, baca di mana, Mas Penulis Cerita?”. Seakan-akan film ini dengan keras direkayasa untuk terlihat cerdas dan bersahaja.
Tapi yang paling bikin saya menganga, sejak kapan A Mild Sampoerna jadi PH? Apa bikin film cuman buat komersialisme semata? Duh, bahkan saat menulis review ini, mata saya tetap berkaca-kaca. (Kenapa akhir kalimat selalu diakhiri dengan “a”? Kan judulnya Alexandria). Dadaaaaa…. (Nanda Meilania)

Pemain: Fachri Albar, Marcel Chandrawinata, Julie Estelle, Kinaryosih. Penulis: Salman Aristo. Sutradara: Ody C. Harahap. Durasi: 110 menit.
Category: Review
- Add this post to
- Del.icio.us -
- Meneame -
- Digg
Comment by Galaxy Raider
Made Monday, 3 of September , 2007 at 9:16 am
Filmnya bagus kok. Lagunya keren. Aktingnya juga. Kasih 1 bintang deh.
You must be logged in to post a comment.